Rabu, 18 Februari 2015

Asal Mula Nenek Moyang Bangsa Indonesia

ASAL MULA NENEK MOYANG BANGSA INDONESIA
Menurut H.Kern dan Heine Geldern, nenek moyang Indonesia berasal dari daratan Asia. Pada awalnya nenek moyang Indonesia mendiami daerah Yunan (Cina Selatan, sekarang RRC), kemudian pindah ke selatan / Hindia belakang (200 SM – 300 SM) secara bergelombang menggunakan rakit dan perahu cadik. Pulau-pulau di daerah selatan kemudian menjadi tanah airnya yang terakhir, yaitu Indonesia.
Pulau-pulau disebelah selatan daratan Asia tersebut lazim disebut dengan nama Austronesia (Austro= Selatan, Nesos = Pulau). Bangsa yang mendiami daerah Austronesia disebut bangsa Austronesia. Bangsa Austronesia mendiami daerah yang sangat luas, yaitu meliputi daerah-daerah atau pulau-pulau yang membentang antara Madagaskar (Sebelah barat) hingga pulau Paska (Sebelah timur) dan antara Taiwan (Sebelah utara) hingga Selandia Baru (Sebelah selatan).
Sejak kepunahan jenis manusia purba, Indonesia telah dihuni oleh ras Melanesia dan Austronesia. Kedua ras tersebut telah mendukung kehidupan masyarakat masa berburu dan pengumpulan makanan tingkat lanjut sampai dengan masa Perundagian. Pendapat ini didasarkan pada dua hal, Yaitu:
A. Persebaran rumpun bahasa
Bahasa yang tersebar di nusantara termasuk bahasa melayu Austronesia. Menurut para ahli bahasa, Melayu Austronesia berasal dari Taiwan. Sebab masyarakat Taiwan sudah menggunakan bahasa Proto Austronesia . Masyarakat Taiwan kemudian menyebar kearah selatan yakni Vietnam, Semenanjung Malaya, dan ada yang sampai ke Indonesia.

B. Persebaran kebudayaan bercocok tanam
Pada zaman Neolitikum terjadi perubahan secara besar-besaran dalam kehidupan pra-aksara di Indonesia, yakni terjadi revolusi dari masa berburu ke masa menetap, bercocok tanam, dan berternak. Kebudayaan bercocok tanam ini sudah ada di Taiwan sekitar 3000 SM. Dari keterangan ini, para ahli menyimpulkan bahwa orang-orang Taiwan memperkenalkan budaya bercocok tanam kepada bangsa Indonesia.
Persebaran Nenek Moyang Bangsa Indonesia.
Seiring dengan kehidupan masyarakat purba, terjadi gelombang kedatangan nenek moyang kita. Menurut penyelidikan Dr.H.Khen (berdasarkan perbandingan bahasa) dan penyelidikan Dr.Von Heine Geldern (berdasarkan perkembangan alat-alat kapak), nenek moyang kita berasal dari Yunan (Cina selatan, sekarang RRC). Dari Yunan, mereka bergerak ke selatan (Hindia belakang) dengan perahu cadik terus ke selatan akhirnya sampai di kepulauan nusantara. Mereka datang ke Indonesia anatara tahun 2000 – 3000 SM. Kebudayaan mereka sudah termasuk kebudayaan Neolitikum . Adapun kedatangan nenek moyang bangsa Indonesia terbagi dalam dua kelompok dan dua gelombang.


Yaitu:
A. Bangsa Proto Melayu (Bangsa Melayu tua).
Kira-kira pada tahun 1500 SM, bangsa Proto Melayu masuk ke Indonesia . Kedatangan Bangsa Proto Melayu merupakan gelombang yang pertama, dengan menempuh dua jalur / jalan yakni:
1. Jalur barat
Persebaran bangsa Proto melayu lewat jalur barat yakni melalui Semenanjung Malaya – Sumatra – Kalimantan, Jawa – Bali dan Nusa Tenggara. Mereka membawa kebudayaan Neolitikum berupa kapak/beliung persegi. Kapak Persegi banyak ditemukan didaerah Indonesia bagian barat. Adapun sisa-sisa keturunan bangsa Proto Melayu ini adalah Suku Nias,Suku Batak,Suku Dayak, dan Suku Sasak.

2. Jalur timur.
Persebaran bangsa Proto Melayu lewat jalur timur. Yakni melalui Sulawesi, terus ke Maluku dan Papua. Mereka membawa kebudayaan Neolitikum berupa kapak Lonjong. Itulah sebabnya, Kapak Lonjong banyak ditemukan didaerah Indonesia bagian timur. Adapun sisa-sisa keturunan bangsa Proto Melayu yang melalui jalur timur adalah Suku Toraja.
B. Bangsa Peutro Melayu (Bangsa Melayu muda).
Kira kira tahun 500SM, nenek oyang bangsa Indonesia gelobang kedua memasuki Indonesia. Bangsa Deutro Melayu memasuki satu jalan, yaitu jalan barat (melalui Malaya-Sumatra-Jawa). Menurut N.Daldjoeni (1984), Bangsa Deutro Melayu / Melayu Muda ini berasal dari dongso (Vietnam Utara), sehingga mereka ini kadang kala disebut orang orang dongso.
Mereka telah memiliki kebudayaan yang lebih tinggi dari pada Bangsa Proto Melayu. Peradaban mereka ditandai dengan kemampuan mengerjakan logam dengan sempurna. Barang-barang hasil kebudayaan mereka telah terbuat dari logam. Mula-mula dari perunggu dan kemudian dari besi. Hasil kebudayaan logam Indonesia yang terpenting ialah kapak corok / kapak sepatu dan nekara.
Dibidang pengolahan tanah mereka telah sampai pada usaha irigasi atas tanah-tanah pertanian yang berhasil mereka wujudkan, yakni dengan membuka hutan. Sudah selayaknya mereka mencari daerah-daerah seperti di Jawa dan pantai-pantai Sumatra untuk digarap seperti di negeri asal mereka. Mereka juga telah mengenal perikanan laut dan pelayaran, sehingga rute perpindahan ke Nusantara juga memanfaatkan jalan laut. Bangsa Indoneia sekarang termasuk keturunan Bangsa Proto Melayu, misalnya Suku Minang, Jawa, Madura, Menado dan Bugis.



Kehidupan Nenek Moyang
Akhir zaman pra-aksara, nenek moyang kita telah memiliki cara hidup sebagai berikut :
• Telah mengenal hidup, bercocok tanah dan berternak
• Telah bertempat tinggal, dipantai maupun pedalaman, yang dekat dengan sumber kehidupan
• Telah membentuk kampung atau desa
• Mereka telah berhasil membetuk masyarakat yang teratur dengan memilih seseorang pemimpin yang bertuah sebagai pemimpin mereka.

Menjelang memasuki zaman aksara, nenek moyang bangsa Indonesia telah memiliki beberapa kepandaian ,seperti kemampuan berlayar, mengenal atronomi, kepandaian bersawah, mengatur masyarakat, kesenian wayang, seni gamelan, seni membatik, perdagangan, sistem macapat, membuat kerajinan.
Masyarakat Indonesia juga telah meyakini adanya kekuatan di luar diri mereka, dengan demikian muncullah kepercayaan Animisme dan dinamisme. Animisme adalah suatu kepercayaan bahwa setiap benda atau mekhluk mempunyai roh / jiwa dan roh itu ada yang baik dan ada yang jahat. Agar tidak mengganggu, maka roh itu di beri sesaji. Dinamisme adalah suatu kepercayaan bahwa benda-benda tertentu memiliki kekuatan gaib, misalnya senjata (tombak, keris, dan lain-lain), pohon, gunung, gua dan sebagainya. Agar tidak menggaggu, mereka memuja / menaruh hormat terhadap benda -benda tersebut.

Teori Asal Usul Nenek Moyang Indonesia:
1. Prof.Dr.H.Kern
Ilmuwan asal Belanda ini menyatakan bahwa bangsa Indonesia berasal dari Asia. Kern berpendapat bahwa bahasa-bahasa yang di gunakan di kepulauan Indonesia, Polinesia, Melanesia, Mikronesia memiliki akar bahasa Austronesia.Kern menyimupulkan bahwa bangsa Indonesia berawal dari satu daerah dan menggunakan bahasa Campa. Menurutnya,nenek moyang Indonesia bercadik menuju kepulauan Indonesia. Pendapat Kern ini di dukung oleh adanya persamaan nama dan bangsa yang dipergunakan di daerah Campa dengan Indonesia, misalnya kata “kampong” banyak dipergunakan sebagai kata tempat di Kamboja.
2. Van Heine Geldern
Pendapatannya tak jauh berbeda dengan Kern bahwa bahasa Indonesia berasal dari daerah Asia Tengah.Teori Geldern ini didukung oleh penemuan penemuan sejumlah artefak, sebagai perwujudan budaya, yang ditemukan di Indonesia mempunyai banyak kesamaan dengan yang di temukan di daratan Asia.
3. Max Muller
Berpendapat lebih spesifik yaitu bahwa bangsa Indonesia berasal dari Asia Tenggara. Namun alasan Muller tak di dukung oleh alasan yang jelas.
4. Hogen
Menyatakan bahwa bangsa yang mendiami daerah pesisir Melayu berasal dari Sumatera. Bangsa Melayu ini kemudian bercampur dengan bangsa mongol yang disebut dengan bangsa Proto Melayu ( Melayu Tua) dan Deutro Melayu ( Melayu Muda).
Bangsa Proto Melayu menyebar di sekitar wilayah Indonesia pada tahun 3000-1500 SM. Sedangkan bangsa Deutro Melayu datang ke Indonesia sekitar tahun 1500-500 SM.
5. Prof. Dr. Krom
Menguraikan bahwa masyarakat Indonesia berasal dari Cina tengah karena di daerah Cina tengah banyak terdapat sumber sungai besar. Mereka menyebar ke kawasan Indonesia sekitar 2000-1500 SM.

6. Mayunder
Berpendapat bahwa bangsa-bangsa yang berbahasa Austronesia berasal dari India, lalu menyebar ke wilayah Indocina terus ke daerah Indonesia dan Pasifik. Teori Mayunder ini didukung oleh penelitiannya bahwa bahasa Austria merupakan bahasa muda di India bagian timur.
7. Dr. Brandes
Berpendapat bahwa suku-suku yang bermukim di kepulauan Indonesia memiliki persamaan dengan bangsa-bangsa yang bermukim di daerah-daerah yang membentang dari sebelah utara Pulau Formosa di Taiwan sebelah barat pulau Madagaskar sebelah selatan yaitu Jawa, Bali, sebelah timur hingga ke tepi barat pantai amerika. Brandes melakukan penelitian ini berdasarkan perbandingan bahasa.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar